RAJA YANG RENDAH HATI DAN PENYELAMAT
Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan, Zakharia 9:9 menyatakan nubuat mengagumkan tentang kedatangan Raja yang berbeda. Untuk memahami kedalaman kebenaran ini, kita perlu menggali konteks dan makna dari karakter Raja Mesias yang sangat relevan bagi perjalanan iman pribadi saya, kamu, dan kita semua dalam memahami Kristus yang datang ke dunia dengan cara yang tidak terduga.
Zakharia menubuatkan kedatangan Raja kepada Yerusalem—namun Raja yang sangat berbeda dari ekspektasi manusia. "Ia adil dan jaya, ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." Raja ini datang bukan dengan kuda perang dan pasukan, tetapi dengan kerendahan hati dan kelemahlembutan. Nubuat ini digenapi ketika Yesus masuk ke Yerusalem menjelang penyaliban-Nya, dan sebelumnya digenapi dalam kelahiran-Nya di kandang sederhana.
Mari kita renungkan frasa "bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion." Ini adalah panggilan untuk bersukacita menyambut Raja. Namun pertanyaannya adalah: apakah saya benar-benar bersukacita menyambut Kristus, atau hanya merayakan Natal sebagai rutinitas? Apakah kamu sungguh-sungguh bergembira karena kedatangan-Nya, atau hanya ikut-ikutan perayaan? Apakah kita semua merayakan Natal dengan sukacita yang sejati karena Raja kita telah datang, atau hanya sibuk dengan aspek komersialnya?
"Lihat, Rajamu datang kepadamu" menyatakan kedatangan yang personal. Bukan "Raja datang ke dunia" secara umum, tetapi "Raja datang kepadamu"—kepada saya secara pribadi, kepada kamu secara individual. Kristus tidak lahir hanya untuk menyelamatkan dunia secara kolektif, tetapi untuk menyelamatkan saya, menyelamatkan kamu, menyelamatkan kita masing-masing. Raja ini datang dengan misi personal—untuk menebus dosaku, untuk memulihkan hidupmu, untuk membawa keselamatan kepada kita semua.
"Ia adil dan jaya" menunjukkan bahwa meskipun rendah hati, Dia tetap Raja yang berkuasa. Kelemahan bukanlah kelemahan. Kerendahan hati bukanlah ketidakmampuan. Yesus memilih datang dengan lemah lembut bukan karena Dia tidak berkuasa, tetapi karena kasih-Nya yang besar. Ini mengajar saya bahwa kekuatan sejati bukan dalam dominasi tetapi dalam kerendahan hati. Kamu dipanggil untuk meneladani Raja yang kuat namun lembut. Kita semua belajar bahwa kebesaran sejati adalah melayani dengan rendah hati.
"Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai" adalah paradoks yang indah. Raja sejati datang dengan cara yang tidak terduga—bukan dengan keangkuhan tetapi dengan kelemahlembutan. Kelahiran Yesus di palungan, kematian-Nya di kayu salib—semuanya menunjukkan pola yang sama: kemuliaan Allah dinyatakan dalam kerendahan hati. Saya dipanggil untuk melepaskan kesombongan dan menerima jalan kerendahan hati seperti Kristus. Kamu diajak untuk tidak mengejar kebesaran dunia tetapi mengikuti teladan Raja yang rendah hati. Kita semua dipanggil menjadi seperti Dia—kuat namun lembut, mulia namun rendah hati.
Dalam persiapan menyambut Natal, pertanyaan untuk saya adalah: apakah saya mau menerima Raja yang rendah hati ini, atau saya masih mencari Kristus versi saya sendiri—yang sesuai dengan ekspektasi dan kenyamanan saya? Untuk kamu: apakah kamu siap menerima Raja yang mengajarkan jalan salib, atau kamu hanya ingin berkat tanpa pertobatan? Untuk kita semua: apakah kita benar-benar mau mengikuti Kristus dengan segala konsekuensinya?
Hari ini, maripah kita—saya, kamu, dan siapapun kita menyambut Raja yang adil, jaya, dan lemah lembut. Biarkan kerendahan hati-Nya menginspirasi cara kita hidup, dan biarkan keselamatan-Nya mengubah hidup kita selamanya. Amin!
_
#RajaYangRendahHati #LemahLembut #MenyambutRaja #PenuhHarapan #PenuhHarapanOfficial

Komentar
Posting Komentar