NAMA DI ATAS SEGALA NAMA: YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM
Filipi 2:9-11
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Hari ini, tanggal 23 November, minggu terakhir bulan November, gereja di seluruh dunia merayakan peringatan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Perayaan liturgis ini ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1925 melalui ensiklik "Quas Primas" sebagai respons terhadap meningkatnya sekularisme, nasionalisme ekstrem, dan ideologi-ideologi dunia yang mengklaim otoritas absolut. Di tengah dunia yang bergejolak pasca Perang Dunia I, gereja menegaskan kembali kebenaran fundamental: hanya Yesus Kristus yang adalah Raja sejati atas segala bangsa dan segala zaman.
Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Filipi sekitar tahun 61-62 Masehi, ketika ia berada dalam penjara di Roma. Dalam konteks historis, Filipi adalah koloni Romawi yang sangat loyal kepada kaisar. Penduduknya terbiasa dengan kultus kekaisaran di mana kaisar dipuja sebagai tuhan dan raja. Namun di tengah konteks inilah Paulus dengan berani memproklamirkan Yesus Kristus sebagai Raja sejati atas segala yang ada.
Ayat 9 membuka dengan frasa "Itulah sebabnya" yang menunjukkan hubungan langsung dengan ayat-ayat sebelumnya (Filipi 2:6-8) tentang kerendahan hati Kristus. Yesus yang adalah Allah sejati, rela mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Karena kerendahan hati dan ketaatan-Nya yang sempurna inilah, Allah Bapa "sangat meninggikan Dia." Kata Yunani yang digunakan adalah "huperupsōsen" yang berarti meninggikan secara super maksimal, melampaui segala peninggian yang ada. Ini bukan sekadar promosi atau pemberian gelar kehormatan, tetapi pemulihan dan penyataan penuh akan kemuliaan ilahi Kristus yang telah ada sejak kekekalan.
Allah mengaruniakan kepada Yesus "nama di atas segala nama." Dalam budaya Yahudi dan dunia kuno, nama bukan sekadar label identitas, tetapi mewakili esensi, karakter, kuasa, dan otoritas seseorang. Nama yang diberikan kepada Yesus adalah nama Tuhan sendiri, YHWH, nama yang dalam tradisi Yahudi begitu kudus sehingga tidak boleh diucapkan sembarangan. Faktanya, ayat 10-11 adalah kutipan langsung dari Yesaya 45:23, di mana YHWH berfirman: "Demi Aku bersumpah... bahwa di hadapan-Ku setiap lutut akan bertekuk dan setiap lidah akan bersumpah." Paulus dengan sengaja mengaplikasikan ayat tentang YHWH ini kepada Yesus Kristus, menegaskan bahwa Yesus adalah Allah yang sejati, Raja atas segala ciptaan.
Ayat 10 menggambarkan cakupan universal kerajaan Kristus dengan tiga dimensi realitas: "segala yang ada di langit" (malaikat, makhluk surgawi), "yang ada di atas bumi" (seluruh umat manusia, bangsa-bangsa, dan segala penguasa dunia), dan "yang ada di bawah bumi" (bahkan kuasa-kuasa kegelapan dan maut). Tidak ada satu pun makhluk atau kuasa yang dikecualikan dari kedaulatan Kristus. Ini mencakup kaisar Roma yang diklaim sebagai tuhan, raja-raja Mesopotamia, firaun Mesir, atau penguasa manapun sepanjang sejarah—semuanya harus bertekuk lutut di hadapan Yesus.
Frasa "bertekuk lutut" adalah postur penghormatan tertinggi dalam dunia kuno, yang hanya diberikan kepada raja atau tuhan. Dalam kebudayaan Romawi, bertekuk lutut adalah tanda penyerahan total dan pengakuan kedaulatan mutlak. Fakta sejarah menunjukkan bahwa jemaat mula-mula menghadapi penganiayaan brutal karena menolak bertekuk lutut kepada kaisar dan hanya mau bertekuk lutut kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Raja mereka. Para martir Kristen abad-abad awal lebih memilih mati daripada mengucapkan "Kaisar adalah tuhan," karena mereka tahu hanya ada satu Raja sejati: Yesus Kristus.
Ayat 11 mencapai klimaksnya dengan pengakuan universal: "Yesus Kristus adalah Tuhan." Kata "Tuhan" di sini adalah "Kurios" dalam bahasa Yunani, yang merupakan terjemahan dari nama YHWH dalam Septuaginta (Alkitab Perjanjian Lama versi Yunani). Ini adalah pengakuan akan keilahian penuh Kristus. Pengakuan ini akan terjadi secara universal—baik mereka yang dengan sukacita menerima Kristus sebagai Juruselamat, maupun mereka yang menolak-Nya, pada akhirnya semua akan mengakui kebenaran ini.
Yang mengagumkan, semua ini terjadi "bagi kemuliaan Allah, Bapa." Kerajaan Kristus bukan untuk merebut kemuliaan dari Bapa, tetapi justru menyatakan dan memuliakan Bapa. Ini menunjukkan kesatuan sempurna dalam Tritunggal Mahakudus. Yesus sebagai Raja Semesta Alam tidak berkompetisi dengan Bapa, tetapi dalam kerajaan-Nya, kemuliaan Bapa dinyatakan dengan sempurna.
Fakta sejarah kebangkitan Yesus dari kematian pada hari ketiga membuktikan klaim-Nya sebagai Raja Semesta Alam. Tidak ada pendiri agama atau pemimpin manapun dalam sejarah yang bangkit dari kematian. Kebangkitan ini disaksikan oleh ratusan orang (1 Korintus 15:6), dan kesaksian para murid yang semula ketakutan berubah menjadi pemberita berani yang rela mati syahid karena keyakinan mereka bahwa Yesus adalah Raja yang hidup. Pertumbuhan pesat kekristenan di tengah penganiayaan sistematis Kekaisaran Romawi adalah bukti historis akan kuasa kerajaan Kristus yang tidak dapat dipadamkan oleh kekuatan dunia manapun.
Kenaikan Yesus ke surga (Kisah Para Rasul 1:9-11) adalah intronisasi resmi sebagai Raja di sebelah kanan Bapa. Dari singgasana-Nya yang kekal, Ia memerintah atas segala sesuatu. Kitab Wahyu menggambarkan visi surgawi di mana Kristus duduk di atas takhta, disembah oleh seluruh ciptaan sebagai "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan" (Wahyu 19:16).
Perayaan Kristus Raja Semesta Alam pada minggu terakhir November ini juga menandai penutupan tahun liturgi gereja, sebelum memasuki masa Adven yang mempersiapkan kedatangan Kristus. Ini sangat bermakna: kita mengakhiri tahun gerejawi dengan mengakui kedaulatan penuh Kristus atas seluruh sejarah keselamatan, sekaligus menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali ketika Ia akan menyatakan kerajaan-Nya secara sempurna dan final.
Sepanjang sejarah, gereja telah menghadapi berbagai tantangan dari kerajaan-kerajaan duniawi yang berusaha merebut kesetiaan umat Allah. Dari Kekaisaran Romawi hingga rezim-rezim totaliter abad ke-20 seperti Nazisme dan Komunisme, banyak penguasa yang menuntut loyalitas absolut dan bahkan penyembahan. Namun gereja tetap berdiri teguh dengan pengakuan iman: hanya Yesus Kristus yang adalah Raja sejati. Ribuan martir di sepanjang zaman telah menumpahkan darah mereka sebagai kesaksian akan kebenaran ini.
Bagi kita hari ini, di perayaan Kristus Raja Semesta Alam ini, kebenaran ini bukan hanya doktrin teologis, tetapi realitas yang harus mengubah seluruh hidup kita. Jika Yesus adalah Raja atas segala yang ada, maka Ia juga Raja atas hidup kita—pekerjaan kita, keluarga kita, rencana kita, masa depan kita. Kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan penuh kepada Raja kita, bukan kepada tuntutan dunia, opini manusia, atau hawa nafsu kita sendiri.
Di zaman yang penuh dengan ketidakpastian, pergumulan, dan kekacauan, kita memiliki kepastian yang kokoh: Yesus Kristus adalah Raja yang berdaulat penuh. Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di luar kendali-Nya. Tidak ada krisis politik, ekonomi, atau kesehatan yang dapat menggoyang takhta-Nya. Tidak ada kuasa kegelapan yang dapat mengalahkan-Nya. Ia yang telah mengalahkan maut dan bangkit dengan penuh kuasa, tetap memerintah dan akan datang kembali untuk menggenapi kerajaan-Nya secara sempurna.
Pada hari perayaan ini, marilah kita bersama dengan seluruh gereja di seluruh dunia, dengan penuh kesadaran dan sukacita, bertekuk lutut di hadapan Yesus Kristus, Raja Semesta Alam kita. Marilah kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada pemerintahan-Nya yang adil dan penuh kasih. Dan marilah kita hidup sebagai warga Kerajaan Surga, mewartakan kemuliaan Raja kita kepada dunia yang masih terbelenggu dalam kegelapan, sampai hari di mana setiap lutut bertekuk dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa. AMIN!
_
#KristusRajaSegalaRaja #YesusRajaSemestaAlam #KristusRaja #PenuhHarapan #PenuhHarapanOfficial

Komentar
Posting Komentar