IMANUEL: JANJI PENYERTAAN YANG PERSONAL
Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan, Matius 1:23 menyatakan janji paling menghibur dalam Kitab Suci. Untuk memahami kedalaman kebenaran ini, kita perlu menggali konteks dan makna dari nama Imanuel yang sangat relevan bagi perjalanan iman pribadi saya, kamu, dan kita semua dalam memahami bahwa Allah tidak hanya datang ke dunia, tetapi datang untuk menyertai kita secara personal.
Matius mengutip nubuat Yesaya tentang kelahiran Mesias: "Anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel yang berarti: Allah menyertai kita." Nama "Imanuel" bukan sekadar gelar teologis, tetapi janji relasional yang sangat personal. Allah tidak puas hanya menciptakan kita dari kejauhan—Dia ingin turun dan menyertai kita dalam setiap langkah kehidupan.
Mari kita gali frasa "anak dara itu akan mengandung dan melahirkan." Kelahiran Yesus adalah mujizat ilahi—bukan hasil usaha manusia tetapi intervensi langsung Allah. Ini menyatakan bahwa penyertaan Allah dalam hidup saya juga bukan karena kehebatan saya atau usaha saya sendiri. Kamu tidak perlu sempurna agar Allah menyertaimu. Kita semua tidak perlu layak terlebih dahulu—Allah datang justru karena kita membutuhkan-Nya, bukan karena kita pantas menerima-Nya.
"Mereka akan menamakan Dia Imanuel" menggunakan kata "mereka"—jamak, personal, melibatkan banyak orang. Bukan hanya Maria yang merasakan penyertaan Allah, tetapi "mereka"—termasuk saya, termasuk kamu, termasuk kita semua. Setiap pribadi yang menerima Kristus berhak menyebut-Nya "Imanuelku"—Allah yang menyertai saya secara pribadi, Allah yang menyertai kamu secara individual, Allah yang hadir nyata dalam kehidupan kita masing-masing.
"Allah menyertai kita" adalah inti dari Natal. Bukan "Allah mengawasi kita dari jauh," bukan "Allah kadang-kadang memperhatikan kita," tetapi "Allah menyertai kita"—hadir, dekat, intim, terlibat. Ketika saya menghadapi kesepian, Imanuel menyertai saya. Ketika kamu bergumul dalam kesulitan, Imanuel menyertai kamu. Ketika kita semua merasa sendirian dalam perjuangan, Imanuel mengingatkan bahwa kita tidak pernah sendirian—Dia ada di sini, bersama kita, dalam kita.
Pertanyaan reflektif untuk saya adalah: apakah saya benar-benar mengalami penyertaan Allah secara personal, atau hanya mengetahuinya sebagai doktrin? Untuk kamu: apakah kamu menjalani hari-hari dengan kesadaran bahwa Imanuel menyertaimu, atau kamu masih merasa harus menghadapi segalanya sendirian? Untuk kita semua: apakah kita hidup dengan keyakinan bahwa tidak ada situasi yang terlalu gelap, tidak ada pergumulan yang terlalu berat, karena Imanuel ada bersama kita?
Dalam menyambut Natal, kita bukan hanya merayakan kelahiran Yesus 2000 tahun lalu, tetapi merayakan kehadiran-Nya yang terus-menerus dalam hidup kita hari ini. Imanuel bukan sekadar fakta sejarah—Dia adalah realitas yang hidup. Saya dapat merasakan penyertaan-Nya dalam doa-doaku, dalam pergumulanku, dalam sukacitaku. Kamu dapat mengalami kehadiran-Nya yang nyata dalam setiap langkah hidupmu. Kita semua dipanggil untuk tidak hanya tahu tentang Imanuel, tetapi mengalami Imanuel secara pribadi dan nyata.
Hari ini, mari saya, kamu, dan kita semua membuka hati untuk mengalami Imanuel secara fresh dan personal. Biarkan kesadaran akan penyertaan-Nya mengubah cara kita menghadapi setiap hari—tidak lagi dengan ketakutan atau kesepian, tetapi dengan keyakinan bahwa Allah menyertai kita. Amin!
_
#ImanuelKu #AllahMenyertai #PenyertaanYangPersonal #PenuhHarapan #PenuhHarapanOfficial

Komentar
Posting Komentar