CINTA DALAM KESEDERHANAAN
Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan, Mikha 5:1 menyatakan nubuat mengagumkan tentang kelahiran Mesias di tempat yang sederhana. Untuk memahami kedalaman kebenaran ini, kita perlu menggali konteks dan makna dari Betlehem yang sangat relevan bagi kita semua dalam menyambut kedatangan Kristus dengan hati yang tulus.
Mikha bernubuat bahwa dari Betlehem Efrata, kota terkecil dan paling sederhana, akan bangkit Sang Mesias. Allah tidak memilih istana megah di Jerusalem, bukan kota besar yang terkenal, tetapi tempat yang rendah dan sederhana. Ini mengungkapkan karakter cinta Allah yang memilih kesederhanaan untuk menyatakan keagungan-Nya kepada kita semua.
Mari kita renungkan mengapa Allah memilih Betlehem. Frasa "hai yang terkecil" bukan sekadar deskripsi geografis, tetapi pernyataan teologis yang dalam. Allah menunjukkan kepada saya, kamu, dan kita semua bahwa cinta sejati tidak membutuhkan kemegahan atau kemewahan. Cinta-Nya hadir dalam kesederhanaan yang tulus, dalam kerendahan yang otentik, bukan dalam kemewahan yang artifisial.
Seringkali kita terjebak mengukur cinta dengan materi hadiah mahal, perayaan mewah, atau pencapaian besar. Kamu mungkin merasa cintamu tidak cukup karena tidak bisa memberikan yang terbaik secara material. Kita bersama sering lupa bahwa cinta Kristus dinyatakan dalam palungan sederhana, bukan dalam istana emas. Betlehem mengajar kita bahwa cinta terbesar justru hadir dalam kesederhanaan yang tulus.
"Dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel" menunjukkan bahwa dari kesederhanaan lahir kepemimpinan yang sejati. Kristus yang lahir dalam kesederhanaan adalah Raja yang sejati. Demikian juga, ketika saya, kamu, dan kita mengasihi dengan sederhana namun tulus, kita mencerminkan cinta Kristus yang sejati, cinta yang tidak mencari perhatian, tidak pamer, tetapi melayani dengan rendah hati.
"Yang permulaannya sudah sejak purbakala" menegaskan bahwa cinta Allah dalam kesederhanaan ini bukan ide spontan, tetapi rencana kekal-Nya. Sejak dahulu kala, Allah telah merencanakan untuk menyatakan cinta-Nya melalui jalan yang sederhana. Ini menghibur kita semua bahwa ketika kita mengasihi dalam kesederhanaan, kita sejalan dengan hati Allah yang kekal.
Dalam persiapan menyambut Natal ini, pertanyaan untuk kita adalah: Apakah saya, kamu, dan kita masih terjebak mengukur cinta dengan standar dunia yang materialistis? Ataukah kita mau belajar dari Betlehem bahwa cinta terbesar justru hadir dalam kesederhanaan yang tulus? Natal mengajar kita bahwa kehadiran jauh lebih berharga daripada hadiah, waktu berkualitas lebih bermakna daripada kemewahan.
Hari ini, mari kita semua merayakan cinta dalam kesederhanaan. Biarkan Betlehem menginspirasi kita untuk mengasihi dengan tulus, melayani dengan rendah hati, dan hadir dengan sepenuh hati, itulah cinta Kristus yang sejati. Amin!
_
#CintaDalamKesederhanaan #BetlehemEfrata #CintaYangTulus #PenuhHarapan #PenuhHarapanOfficial

Komentar
Posting Komentar