Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Dalam Galatia 3:1, Paulus menegur jemaat Galatia yang mulai menyimpang dari kebenaran. Mereka telah melihat dan mendengar tentang Kristus yang disalibkan, tetapi tetap terpengaruh oleh ajaran yang menyesatkan. Mereka tergoda untuk kembali kepada hukum Taurat, seolah-olah keselamatan dapat diperoleh melalui perbuatan manusia, bukan oleh iman kepada Kristus. Jika kita renungkan, kondisi ini tidak jauh berbeda dengan zaman sekarang. Kita hidup di dunia yang penuh dengan ajaran, tren, dan kepercayaan yang dapat mengalihkan kita dari kebenaran Kristus. Ada begitu banyak informasi yang membingungkan, membuat kita ragu akan iman kita, atau bahkan tergoda untuk mencari keselamatan di luar Kristus. Seperti jemaat Galatia, kita pun bisa dengan mudah terpesona oleh hal-hal duniawi yang terlihat menarik tetapi menjauhkan kita dari iman yang sejati. Karena itu, kita harus selalu kembali kepada Injil yang murni. Jangan biarkan hal-hal lain mengambil tempat utama dalam hidup kita. Kristus telah...
Di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian, kekhawatiran, dan pergumulan, kita sering mencari kedamaian dalam berbagai hal—kestabilan finansial, hubungan yang harmonis, atau bahkan pencapaian pribadi. Namun, sering kali kita mendapati bahwa semua itu hanya memberikan ketenangan sesaat. Yesus menawarkan damai yang berbeda, bukan seperti yang diberikan dunia. Damai dari-Nya bukan sekadar perasaan tenang saat keadaan baik-baik saja, tetapi sebuah keyakinan yang teguh bahwa kita tidak pernah sendirian, bahkan dalam badai kehidupan sekalipun. Damai itu adalah jaminan bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu dan kasih-Nya selalu menyertai kita. Ketika hati kita mulai gelisah dan takut akan masa depan, ingatlah bahwa Tuhan telah memberikan damai-Nya. Ia mengundang kita untuk bersandar kepada-Nya, mempercayakan setiap rencana dan pergumulan kita ke dalam tangan-Nya. Mari kita belajar hidup dalam damai yang sejati—bukan yang bergantung pada keadaan, melainkan yang berakar dalam kep...
Dalam hidup yang penuh tantangan, sering kali kita sulit untuk bersukacita, apalagi mengucap syukur. Namun, melalui ayat ini, Rasul Paulus menegaskan tiga sikap rohani yang harus menjadi gaya hidup orang percaya: bersukacita senantiasa, tetap berdoa, dan mengucap syukur dalam segala hal. Bukan hanya dalam hal yang baik, tetapi juga dalam pergumulan dan kesesakan. Mengapa? Karena inilah yang dikehendaki Allah dalam Kristus Yesus bagi kita. Sukacita sejati bukan berasal dari keadaan yang nyaman, tetapi dari hubungan yang intim dengan Tuhan. Ketika kita tetap berdoa, kita menyadari bahwa kita tidak sendiri. Kita sedang berjalan bersama Allah yang setia. Dan dalam doa, kita diajak untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang-Nya. Hati yang mengucap syukur adalah hati yang percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya. Maka, marilah kita melatih diri untuk hidup dalam sukacita, tidak jemu berdoa, dan selalu mengucap...
Komentar
Posting Komentar